Mencari Akomodasi di UK

Disclaimer : semua info di bawah hanya berdasarkan pengalaman pribadi tanpa pencarian informasi yang lebih lanjut

Mencari tempat tinggal di UK ini lumayan bikin ribet. Saya sama suami dulu sengaja datang 10 hari sebelum tanggal resmi kuliah kami dimulai supaya kami bisa cari-cari tempat tinggal dulu. Biasanya international student tinggal di campus accommodation dan ini memang lebih simple alias ga ribet. Tapi karena saya berdua dengan suami ingin suasana selain kampus, kami memutuskan untuk tinggal di luar kampus. Selain itu, supervisor pun memang menyarankan kami untuk tinggal di luar kampus. Tapi saya akan coba bahas akomodasi kampus juga dengan informasi yang sangat minim (ingat disclaimer di atas ya :))

Akomodasi Kampus

Akomodasi di dalam kampus: murah & mudah vs tipe terbatas, ruangan sempit

Di kampus sini ada beberapa college. CMIIW sih ini, tapi college itu semacam blok akomodasi, dan setiap college punya aktivitas masing-masing. Jadi selain nyediain akomodasi, college ini bisa jadi semacam organisasi kampus juga. Saya kurang paham tentang ini karena saya ga tinggal di kampus, tapi saya termasuk member di Wentworth College; college untuk post graduate students.

Beberapa minggu sebelum term dimulai, saya mendapatkan e-mail penawaran akomodasi kampus. Untuk penawaran dan harga, bisa dilihat di sini. Di sana ada beberapa jenis kamar; kamar untuk sendiri, couple, atau family. Untuk akomodasi per orangan, yang pasti tidak mungkin untuk saya karena saya tinggal berdua dengan suami. Namun kalaupun saya masih single, saya tidak akan memilih akomodasi ini. Akomodasi kampus mempunyai shared kitchen; satu dapur digunakan oleh setidaknya 20 orang yang tinggal di sana. Saya cukup cerewet mengenai kebersihan dan kenyamanan dapur, jadi opsi shared kitchen pasti saya hapus. Mayoritas akomodasi pun mempunyai shared bathroom. Satu bathroom digunakan oleh sekitar 4 orang. Mungkin ini cocok untuk Anda yang tidak terlalu suka memasak dan dapat menahan keinginan untuk buang air jika toilet sedang digunakan semua, atau bahkan menahan keinginan untuk mandi jika Anda perlu pergi namun semua kamar mandi sedang digunakan :). Untuk couple dan family pun saya kurang tertarik karena foto yang diperlihatkan kurang memberikan gambaran seperti apa akomodasi yang ditawarkan. Tapi satu yang saya sukai dari akomodasi kampus adalah harga yang ditawarkan biasanya sudah termasuk bill gas, air, listrik, dan internet. Oleh karena itu kita tidak perlu memikirkan lagi bill yang mungkin saja membludak setiap bulannya.

Masalah harga, kebanyakan akomodasi kampus menawarkan harga di kisaran 150-185pcw. Yang dimaksud dengan pcw di sini adalah harga per minggu. Yang perlu diperhatikan adalah cara pembayarannya. Rata-rata akomodasi di sini meminta pembayaran beberapa bulan sekaligus. Saya pernah mendengar kabar bahwa teman saya sempat diminta membayar satu tahun di muka jika dia ingin tinggal di akomodasi kampus; namun mungkin ini perlu dikonfirmasi lagi. Jika Anda tertarik dengan akomodasi kampus, silahkan hubungi pihak kampus secepatnya setelah Anda mendapatkan offer :).

 

Akomodasi di Luar Kampus

Akomodasi di luar kampus: mahal & ribet vs banyak pilihan

Akomodasi di luar kampus ini memang lebih mahal dan super ribet pengurusannya. Tapi dengan banyaknya pilihan, kita bisa memenuhi preferensi kita juga. Apalagi untuk saya, tinggal bersama suami dan berencana menetap selama minimal 3 tahun, banyak kemungkinan kerabat kami akan mengunjungi kami di sini; sehingga kami memerlukan tempat tinggal yang nyaman.

Pencarian awal bisa dimulai dengan pencarian di internet. Ada beberapa website yang dapat digunakan dalam pencarian akomodasi; yang sering saya pakai dulu adalah rightmove dan zoopla. Di sana kita bisa cari rumah/flat yang akan disewakan, dengan filter yang menurut saya cukup berguna, mulai dari range harga hingga ketersediaan garasi pun ada di menu filternya. Harga yang ditampilkan biasanya dalam pcm (per calendar month), tapi pada kenyataannya kita biasanya diminta untuk membayar 6 bulan di muka atau bahkan satu tahun di muka.

Properti-properti biasanya ditawarkan oleh agen. Proses penyewaan tidak dapat selesai tanpa tatap muka, karena kita diharuskan melihat kondisi properti secara langsung sebelum setuju untuk menyewa properti tersebut, Ini diperlukan untuk menghindari complain nantinya. Oleh karena itu kami mengontak beberapa agen sebelum kami datang ke York, namun ternyata tidak mudah juga mendapatkan balasan, dan tidak mudah juga mendapatkan properti jika kita seorang student. Karena itu kami nekat datang ke York tanpa ada incaran properti terlebih dahulu.

Setelah tiba di York, kami langsung mendatangi agen-agen properti. Mereka memang sangat welcome ketika didatangi langsung. Kami ditanyakan mengenai budget dan preference kami. Pembayaran per bulan pun ternyata dimungkinkan, tapi kami memang agak diKEPOi mengenai pendapatan kami per bulan, dan kami harus menunjukkan buktinya. Kami pun kemudian diperlihatkan pilihan properti yang masuk preference kami; dan yang agak di luar budget setelah agen mengetahui pendapatan kami. Jika ada yang menarik, kami dibuatkan janji untuk melihat langsung properti yang diincar. Ternyata memang visiting itu penting, karena properti yang ada tidak sebagus apa yang terlihat di gambar. Perlu beberapa hari hingga akhirnya kami mendapatkan rumah yang benar-benar kami inginkan.

Biaya yang perlu dikeluarkan sebelum mulai menghuni properti tersebut pun tidaklah sedikit. Ada biaya agen, pajak, dan biaya administrasi yang perlu dibayar, ditambah dengan uang deposito yang biasanya sekitar 150% harga sewa bulanan. Uang deposito ini bisa saja kembali sepenuhnya ke kita di akhir masa sewa, namun jika ada kerusakan dalam property, uang deposito tersebut akan dipotong sebelum dikembalikan kepada kita. Kerusakan yang dimaksud di sini pun bisa jadi kerusakan yang kecil seperti adanya tembok yang terkelupas atau adanya noda pada karpet. Pembayaran di awal ini pun cukup membuat kami kewalahan karena kami terpaksa harus meminjam akun bank teman kami. Agen tidak menerima pembayaran cash dan hanya menerima pembayaran via UK Bank; sedangkan syarat untuk membuat UK bank account adalah mempunyai alamat rumah tetap.

Biaya yang perlu dikeluarkan per bulan pun tidak hanya uang sewa rumah karena biaya listrik, gas, air, internet, dan lisensi televisi pun belum masuk dalam harga sewa sehingga kita harus membayarnya terpisah. Bahkan untuk internet, karena belum ada internet terpasang di rumah yang kami sewa, kami harus mencari provider internet sendiri dan mengatur set-up internet tersebut sendiri.

 


Jadi? Akomodasi mana yang kamu pilih?
Saya pribadi tidak menyesal sama sekali memilih akomodasi di luar kampus karena kenyamanan dan privacy adalah dua aspek penting bagi saya. 🙂

Should I study abroad?

Jujur pertanyaan ini ga pernah terbersit di kepala saya, karena saya emang dasarnya penasaran gimana sistem edukasi di luar negeri jadi pengen ngerasain belajar di negara lain dari awal. Tapi kemudian setelah dengerin cerita orang-orang, saya baru sadar ternyata ga sedikit orang yang punya alasan yang menurut saya amat sangat kurang bisa dijadiin motivasi buat kuliah di luar negeri.

Beberapa alasan yang menurut saya aneh walaupun manusiawi adalah:
1. Kayaknya keren tinggal di luar
2. Bisa nabung buat dibawa pulang ke Indonesia (entah nantinya buat buka usaha atau apa)
3. Pengen nyari jodoh bule
…dan mungkin beberapa alasan lain yang lagi gak kepikiran sama saya saat ini.

Tapi yang pasti, semua yang diatas itu cuman duniawi yang bakal ilang sebentar juga…

Keren tinggal di luar negeri?
Satu. Tinggal di luar negeri itu gak keren.
Dua. Kamu ngerasa tinggal di negara A keren? Kamu akan ada di tengah-tengah jutaan orang yang udah ‘keren’ dari lahir. Ke’keren’an kamu bukannya bakal ningkat tapi malah turun.
Tiga. Banyak kendala yang harus dipikirin. Kendala bahasa dan tradisi itu yang lumayan berat. Di Indonesia biasa dilayani sana-sini, di luar negeri harus mandiri. Walaupun bisa lancar bahasa tertentu, dengerin logat orang langsung belum tentu lancar.
Empat. Kamu yang mungkin ngerasa ngerti segala sesuatunya di Indonesia, yang menurut saya itu beneran keren, nyampe negara tujuan bisa jadi ngerasa gak ngerti apa-apa karena kurikulum yang ada di jenjang sebelumnya itu beda jauh. Keren benerannya malah jadi ilang deh di negara tujuan.

Bisa nabung buat dibawa pulang ke Indonesia?
Ini manusiawi. Banget.
Tapi kalo dijadiin alasan utama? Mikir-mikir lagi deh. Di Indonesia juga bisa ko nabung. Kurangin aja makan di luar. Kurangin beli ini-itu yang ga jelas. Nabung selama kuliah emang bisa banget asal kita hidup sederhana. Nah, kalo ujung-ujungnya harus hidup sederhana buat nabung, sama aja kayak nabung di Indonesia. Malah lebih enak di Indonesia; makan murah udah enak.

Pengen nyari jodoh bule
Yah… Ini sih.. ga usah disusulin ke negaranya juga kalau emang jodoh sih pasti ketemu. Ngapain susah-susah kuliah di luar negeri buat nyari jodoh yang belum tentu ketemunya di sana?

 


Jadi, menurut saya alasan apa pun yang bikin kamu memutuskan buat belajar di luar negeri itu sah sah aja. Tapi yang perlu diingat adalah, apapun alasannya, tujuan utama tetep satu: nyari ilmu. Jadi amat sangat perlu dipikirin juga apa kita mampu ngehadapin tekanan yang ada saat kuliah di luar negeri. Iya, tekanan. Banyak loh, tekanan buat belajar di luar negeri itu. Kendala yang saya temuin baik itu di Jepang maupun di Inggris itu utamanya ada dua: bahasa dan tingkat pemahaman.

Di Jepang ada kendala bahasa ya wajar lah ya, saya baru belajar bahasa Jepang tiga bulan sebelum pergi dan bahasa Inggris orang-orang Jepang kan biasanya Engrish, alias pronounce-nya nyesuaiin sama lidah mereka. Nah tapi ternyata di Inggris pun saya masih terkendala bahasa walaupun saya udah belajar Bahasa Inggris dari kelas 4 SD. Kendalanya ada di logat dan kecepatan ngomong. Aslinya orang Inggris ngomongnya cepet banget dan ga bisa diminta pelenan dikit. 🙁

Kendala ke-2, tingkat pemahaman. Jeleknya cara belajar mayoritas orang Indonesia menurut saya adalah kita terlalu terbiasa dengan contoh. Mau akhirnya jadi ngerti konsep karena contoh atau cuman mentok di ngapalin contoh, pemahaman konsep kita menurut saya jadi kalah sama pelajar di negara maju. Tapi mungkin ini saya aja yang mikir gitu loh ya. Tapi yang jelas, kalau belajar di luar negeri kita harus siap belajar mandiri. Gak bisa lagi minta contoh atau minta dijelasin yang super detail ke dosen ataupun pembimbing. Mereka lebih nekanin ke konsep dasar banget; itu pun kalau mereka mau ngasih waktu ngejelasin tambahan ke kita. Belum lagi masalah soal ujian kalau emang perlu ambil kelas. Soalnya ga seteknis yang biasa muncul di kuliah-kuliah waktu saya belajar di Indonesia maupun waktu saya ngajar di Indonesia. Kadang soalnya aja perlu dianalisa dulu apa artinya dan ga bisa tuh kita tanya “maksud soalnya gimana?”.

Jadi intinya, terserahlah alasan utama mau belajar di luar negeri itu apa.
Tapi better ask yourself: “Should I study abroad? Can I?”
Dan menurut saya bisa atau gaknya itu bukan masalah IPK bagus atau ga, tapi masalah sikap diri yang ga gampang nyerah dan mau usaha.

Memulai Kehidupan di UK

Disclaimer : semua info di bawah hanya berdasarkan pengalaman pribadi tanpa pencarian informasi yang lebih lanjut

Saya ga akan ngebahas tentang persiapan untuk tinggal di UK, karena udah banyak artikel yang bahas tentang itu. Saya sendiri dibantu sama IDP untuk persiapannya. Tinggal ikutin arahan, jadi ga ada yang terlalu ribet (kecuali nyiapin uangnya -_-). Kalau mau urus sendiri, bisa cek artikelnya di sini. Jadi, yang mau saya ceritain di sini adalah apa aja yang perlu dipersiapin setelah datang ke UK; to do list yang perlu dilakukan untuk memulai kehidupan di UK.

Sebenernya, ini sifatnya general atau ga, saya kurang tau dan saya ga nyari info dulu tentang ini. Jadi bisa aja ini cuman berlaku di York aja ya.

  1. Pastiin akomodasi
    Buat yang tinggal di kampus, mungkin ga akan terlalu ribet sama urusan ini ya. Saya pribadi karena emang dasarnya ga suka tinggal deket banget sama kampus karena anaknya emang bosenan,, saya juga udah berkeluarga dan supervisor suami saya suggest buat ga tinggal di dalem kampus karena banyak kemungkinan ribut. Nah, buat tinggal di luar kampus itu ribetnya parah! Keribetannya bakal dibahas di post lain karena akan panjang banget. Yang pasti, modal yang lumayan gede diperluin buat tinggal di luar kampus. Bukan cuman masalah harga, waktu yang diperluin juga lama. Saya sama suami saya baru berhasil pindah ke rumah baru setelah 10 hari nomaden di York; ini juga penting: cari penginapan selama belum ada tempat tinggal tetap. Karena York emang tempat wisata, Jumat-Minggu agak susah nyari penginapan. Jadi, pastiin dulu akomodasi kamu, minimal banget akomodasi sebelum kamu punya tempat tinggal yang tetap.
  2. Ambil Biometric Residence Permit (BRP)
    BRP itu semacam KTP untuk warga negara asing di sini. Di situ ditulis berapa lama permit kita dan catatan tentang visa kita (kayak ijin kerjanya max berapa jam). Jadi kalau udah bawa BRP ini, kita ga perlu bawa passport lagi ke mana-mana. BRP ini maksimal diambil 7 hari setelah kedatangan kita di UK, dan bisa diambil di post office yang udah kita daftarin pas kita apply visa. Yang perlu dibawa cuman surat pengantar pengambilan BRP yang kita dapet waktu apply visa sama passport. Perlu juga alamat kita di UK. Saya pribadi karena belum punya alamat pasti, saya pakai alamat temen saya yang pernah saya minta sebelum terbang ke UK.
  3. Ambil Unicard
    Ambil Unicard atau KTM kalau istilah gaulnya 😛 . Kalau di University of York, unicard ini berguna banyak banget karena dipakai akses ruangan-ruangan tertentu, termasuk perpus. Saya pribadi karena mahasiswa PhD, unicardnya dipakai untuk akses ke ruangan kerja saya dan untuk akses mesin printer dan fotokopi. Untuk pinjam buku di perpus pun kita perlu scan unicard kita.
  4. Beli SIM Card UK
    Pastinya kita perlu internet kan? Minimal buat liat maps. Ada beberapa provider di UK ini, beberapanya: EE, 3, Vodafone,  dan O2. Buat masing-masing provider, kita bisa milih beli SIM card yang Pay as You Go atau monthly contract. Tapi sayangnya kalau kita baru banget datang ke UK dan belum punya UK Bank Account, kita ga bisa kontrak bulanan. Saya beli Pay as You Go SIM card dari EE waktu datang ke sini. Harganya GBP15 untuk 2GB data, unlimited EU text dan 200 minutes EU call. Saya pilih EE karena katanya EE ini semacam Telkomselnya UK; provider yang nyediain koneksi paling cepet dan stabil. Tapi nyatanya, saya pribadi lebih suka sama jaringannya Telkomsel di Indonesia. Suami saya coba pakai 3. Harganya emang lebih terjangkau tapi jarang dapet jaringan 4G (walaupun jaringan 3G nya juga cepet ko).
  5. Buat UK Bank Account
    Sebelum punya UK bank account, saya bener-bener ngerasa belum sepenuhnya diterima di negara ini. Karena mau apa-apa harus ada UK bank account dulu. Bayar rumah, set-up broadband rumah, monthly contract buat internet HP, bayar tagihan ini-itu, semuanya perlu UK bank account. Nah, nyebelinnya, bikin UK bank account ini ga segampang bikin akun bank di Indonesia atau bahkan Jepang yang sehari jadi. Prosesnya bisa makan waktu berminggu-minggu. Ada beberapa bank yang bisa dijadiin pilihan, semacam Barclays, Lloyds, Santander, atau HSBC. Saya pribadi pilih Santander karena ada kantor cabangnya di dalem kampus dan kalau kita daftarnya di situ, kita ga perlu bawa surat pengantar dari kampus dan buat janji dulu. Selain Santander cabang kampus ini, kita wajib book appointment (yang bisa makan waktu berminggu-minggu) dan bawa surat pengantar dari kampus (ini pun perlu 3 hari kerja). Tapi ternyata, walaupun kita ga perlu book appointment dulu, akun bank ini tetep baru kita dapet 2 minggu ke depan. Dan, kita wajib udah punya alamat tetap pas daftar ini karena kartu bank akan dikirim via post ke alamat kita. Santander sendiri punya beberapa jenis tabungan buat mahasiswa asing. Saya pilih yang basic. Anehnya, dengan basic account ini kita dikasih dua kartu. Satu cash card dan satu debit card. Cash card ga bisa dipakai untuk belanja, tapi kita bisa transfer uang antar kartu anytime via aplikasi HP. Banyak yang bilang ini sisi negatif, tapi kalau untuk saya pribadi ini sisi positif karena saya bisa kontrol uang belanja saya per periode tertentu.
  6. Minta Council Tax Exemption Certificate
    Di Inggris, semua orang yang tinggal di suatu alamat tetap wajib bayar council tax dengan beberapa kategori sebagai pengecualian. Student termasuk salah satu kategori yang dibebasin dari council tax. Tapi, buat dibebasin dari tax council ini, kita perlu minta surat keterangan dari kampus kalau kita itu student dan ga perlu bayar tax council, atau disebut Council Tax Exemption Certificate. Nanti dari kampus, akan ngasih keterangan itu ke kita, dan juga ke council biar kita dibebasin dari tax council. Kita juga perlu ngisi form online di website pemerintahannya York. Untuk lebih jelas tentang council tax ini, bisa diliat di: https://www.gov.uk/browse/housing-local-services/council-tax .
  7. Cari Kartu Langganan Transportasi
    Di York, transportasi umum yang utama itu bus. Untuk harganya, tergantung perusahaan penyedia jasa transportasi itu. Saya sendiri kemana-mana pakai bus dari First Bus. Untuk first bus, tarifnya lumayan memberatkan sih kalau kita ga langganan. Sehari bisa abis 3-4 pound per orang. Untuk student, kebetulan ada promo namanya Your bus 66. Saya cukup bayar 99 pound dan saya bisa naik bis apapun dari First Bus gratis sebanyak yang saya mau dalam satu tahun.
  8. Buat Railcard
    Railcard ini berguna banget buat yang suka jalan-jalan ke luar kota. Biaya pembuatannya tergantung jenis railcard yang kita apply. Yang banyak dipake orang itu Railcard 16-25; ini bisa didapet sama orang-orang yang umurnya antar 16 sampai 25 tahun, atau full time student. Biaya pembutannya GBP 30 dan ini berlaku untuk satu tahun dan kita bakal dapet diskon 30% setiap beli tiket kereta (kecuali hari kerja sebelum jam 9:30 pagi). Saya sendiri karena kalau kemana-mana bedua sama suami, saya ambil jenis Two Together. Penggunaannya sama, kecuali diskon ini cuman berlaku kalo dua orang yang didaftarin barengan perginya (dari naik sampai turun kereta). Harganya GBP30 buat satu railcard; artinya GBP15 per orang 🙂
  9. Daftar GP Practice
    GP ini semacam puskesmas kali ya kalau di kita. Di sini, sebelum kita bisa diperiksa kalau ada apa-apa, kita perlu bikin appointment dulu. Dan kayaknya susah buat dapet appointment di hari yang sama. Sebelum buat appointment juga kita perlu registrasi dulu. Jadi, mendingan sebelum kita sakit, kita udah registrasi dulu di GP terdekat. Caranya, registrasi online dulu, terus dateng ke GP nya buat kasih dua ID kita yang ada fotonya. Nanti mereka fotokopi dan mereka kasih informasi yang kita perluin buat register akun patientaccess. Akun ini bisa kita pake buat bikin appointment dan liat catatan medis kita.

So far saya cuman inget itu aja sih.. Beberapa poin akan saya buat post khususnya buat keterangan lebih lanjutnya lagi ya 🙂

Apply Universitas

“Gimana sih caranya apply universitas?”, “Cari beasiswa dulu atau cari sekolahnya dulu?”, “Bikin proposalnya harus sedalem apa ya?”, “Ngejer TOEFL/IELTS dulu atau apply sekolah sama beasiswa dulu ya?”

Itu beberapa pertanyaan yang beberapa kali saya denger.

Menurut saya, ga ada jawaban salah atau bener di masalah nyari sekolah ini. Soalnya buat masing-masing pertanyaan di atas, jawaban saya sama: tergantung.

“Gimana sih caranya apply buat sekolah di luar?” : tergantung, mau apply ke negara mana, khususnya ke kampus mana

“Cari beasiswa dulu atau cari sekolahnya dulu?” : tergantung, beasiswanya bisa didapet kalau belum ada sekolahnya ga? Sekolahnya bisa nerima kalau belum tau bayarnya gimana ga?

“Bikin proposalnya harus sedalem apa ya?” : tergantung, negara mana yang dituju, dan kepikiran tentang topik tertentunya udah sedalem apa, juga saat ini perkembangan topik itu udah segimana?

“Ngejer TOEFL/IELTS dulu atau apply sekolah sama beasiswa dulu ya?” : tergantung, kampus atau beasiswa tujuannya wajibin nilai TOEFL/IELTS tertentu udah di tangan apa boleh nyusul?

 

Di luar masalah beasiswa dan persyaratan bahasa, masalah terberat itu sebenernya adalah nyari kampus tujuan. Gimana cara nyari kampus yang mau dituju? Pertanyaan yang di atas itu menurut saya bisa dianggep masalah administratif. Jadi mendingan mikirin gimana nyari kampus yang cocok dulunya.

Sebenernya ada beberapa cara buat dapetin kampus yang sesuai sama minat kita.

Cara yang paling ideal menurut saya: waktu kita nyusun tugas akhir atau tesis kita dulu, harusnya kan kita banyak baca literatur ya.. Nah, cek salah satu literatur yang paling menarik, itu dari kampus tertentu, jurusan tertentu, profesor tertentu kah? Kalau iya, coba cari tau persyaratan masuk kampusnya dan stalking tentang profesornya. Nah, karena kita udah punya cukup pengetahuan tentang topik itu dari tulisan kita waktu tugas akhir atau tesis, kita harusnya udah bisa buat proposal (buat yang S3 kali ya) buat diserahin ke profesornya buat jadi bahan pertimbangan.
Tapi sayangnya cara ini jarang saya temuin. Bisa jadi karena minatnya berubah dari tugas akhir atau tesisnya, bisa juga karena emang ga baca banyak pas nyusun tugas akhir atau tesisnya. (Saya juga termasuk yang A kok :P)

Itu cara ideal menurut saya loh ya; bukan cara yang bener karena balik lagi, menurut saya ga ada cara yang bener ataupun salah.

Nah, kalau itu idealnya, gimana dengan kenyataannya?

Saya sendiri nyoba beberapa cara sampai akhirnya bisa dapet universitas yang cocok sama saya:

  1. Waktu S2, setelah gagal nyari sendiri topik yang saya minatin, akhirnya saya fokus di jurusan yang saya minatin. Kebetulan waktu itu di ITB dibuka program dual degree ITB-Kanazawa University dengan jurusan yang pas sama minat saya. Saya coba ikut tes di ITB, ikutan matrikulasi, dan tes buat masuk Kanazawa Universitynya, dan untungnya langsung dapet sepaket sama beasiswa. Karena saya ga terlalu usaha buat yang satu ini, saya masih mikir ini masalah keberuntungan aja sih 🙂
  2. Buat S3 ini nih yang bikin agak sakit kepala buat dapetin sekolahnya. Saya awalnya minat riset di bidang information security. Walaupun saya masih ga kebayang apa yang bakal saya kerjain nanti, dan pemahaman saya tentang bidang ini masih amat sangat awam, saya coba buat proposal penelitian saya yang amat sangat general. Saya coba kontak profesor-profesor yang saya temuin kerja di bidang ini. Tapi sayangnya cuman segelintir orang yang fokus di bidang yang saya minati dan mereka semua ga ada yang lagi nerima mahasiswa PhD (atau itu alesan halus buat nolak saya, bisa jadi sih :3)
  3. Setelah saya coba hubungin semua profesor yang saya incer, saya cari juga kampus-kampus yang diterima sama LPDP (karena waktu itu inceran beasiswa saya yang utama ya si LPDP ini). Mulai dari UK, German, Swiss, ampe Jepang pun, saya cek semua kampus yang masuk list LPDP, terus saya cek apakah ada jurusan computer science, lanjut apakah ada bidang yang masuk sama proposal yang saya punya. Tapi ternyata, ini cukup sulit juga karena proposal yang saya punya masih sangat general, sedangkan profesor inceran saya di cara ke-3 ini bukan expert di bidang itu.
  4. Akhirnya saya ulang lagi cara ke-3 tanpa mikirin proposal yang saya bikin. Saya coba refresh lagi otak saya, dan cek bukan cuman tentang information security tapi juga tentang bidang lain yang juga saya minati; salah satunya tentang Graph Theory. Ketemulah satu research group yang amat sangat menarik minat saya, karena di sana ada keywords Graph dan Evolutionary Computation yang dua-duanya emang saya minati. Akhirnya saya e-mail ketua grup riset itu dan dia langsung forward email saya ke rekan satu grup riset dia yang riset di bidang yang saya minati itu. Langsung dibales lagi dengan respon amat sangat positif dan kita langsung bahas kira-kira topik apa yang buat saya tertarik. Setelah ok, saya coba apply secara resmi ke kampusnya. Proposal juga langsung saya buat tapi cuman satu halaman aja; jadi kayak semacam abstrak; dan dilampirkan di aplikasi ke universitasnya. Gak lama kemudian saya dapet balesan tentang jadwal wawancara, dan dapet LoA deh 🙂
  5. Satu cara lagi yang pernah coba saya cari sebenernya adalah cek project-project yang ada di FindAPhd.com . Di situ ada banyak banget project buat calon PhD; funding ataupun ga. Tapi sayangnya di sana ga ada yang cocok sama minat saya, jadi saya ga apply. Tapi penting buat dicoba sih 🙂

Masalah requirement bahasa, kalau mau belajar ke luar negeri sih ya menurut saya harusnya punya sertifikat kemampuan bahasa ya. Seminimal-minimalnya TOEFL ITP karena mungkin aja itu bisa dipake buat ngelamar beasiswa. Tapi kalau buat persyaratan sekolahnya, di Eropa rata-rata kampusnya prefer IELTS, kalau di Asia prefer TOEFL iBT. Tapi kalau beneran gatau mau apply ke Eropa atau Asia, mungkin TOEFL iBT bisa dipertimbangkan karena dia bisa dipake di Eropa juga.

Tapi intinya, ga ada alur yang jelas sebenernya, harus mana-mananya dulu; karena hampir semuanya bisa dikerjain secara paralel. Masalahnya cuman niat dan usaha (dan mungkin sedikit hoki – yang makin sulit didapetin kalo ga usaha dulu).

 

 

 

 

Beasiswa

Umumnya orang Indonesia lanjut kuliah itu, apalagi kalau di luar negeri, setelah dapet beasiswa.
Saya sendiri dapet beasiswa dari Kanazawa University nya waktu S2, dan beasiswa LPDP waktu S3.
Beberapa orang pernah saya denger ngeremehin dua beasiswa ini. “Itu kan gampang ya. Yang penting ke luar aja ya?”, katanya.
Saya paling males ngomentarin orang-orang yang nganggep remeh beasiswa tertentu, lebih parah lagi kalau nganggep remeh yang lanjutin sekolah tanpa beasiswa. Dapetin beasiswa, apapun itu, adalah sesuatu yang menurut saya wow. Sekolah tanpa beasiswa, itu jauh lebih wow. Hidup tanpa beasiswa itu, walaupun dia dibiayai sama orang tuanya, let say.. Tetep aja perjuangan hidupnya lebih parah daripada yang dapet beasiswa. Liat aja Pak Habibie, dia dulu ga dapet beasiswa kan, pas awal. Modal nekat, demi menggapai pendidikan yang lebih baik.

Beasiswa waktu S2 saya, yang dari Kanazawa University (KU), dulu bisa dibilang sepaket sama program S2 double degree-nya. Dulu saya ngambil double degree ITB-KU. Jadi tesnya emang cukup simple, disatuin sama tes masuk KU-nya. Ada tes tulis, dan tes wawancara. Karena saya dulu ambil jurusan Computational Science, tesnya meliputi Aljabar, Fisika Kuantum, dan Pemrograman. Di wawancaranya sendiri, saya cuman ditanya tentang kegiatan dan prestasi akademik waktu S1, termasuk disuruh ceritain tentang TA saya dulu. Ga lama kemudian, hasilnya keluar; ada yang lulus tanpa beasiswa, ada juga yang lulus dengan beasiswa. Untungnya saya masuk kategori ke-dua :). Nominal yang didapet dulu itu kecil, cuman JPY 70.ooo per bulan. Bandingin aja sama beasiswa LPDP yang kalo ga salah lebih dari JPY 150.000 per bulan. Tapi ya bersyukur aja lah. Toh saya masih bisa hidup dengan nyaman juga di Jepang, saat itu. Beasiswa itu menurut saya bukan masalah nominal, tapi komitmen 🙂

Nah, kalau buat beasiswa S3, saya ambil beasiswa yang sering dibilang mainstream (at least sama beberapa orang di sekitar saya). Tapi jujur, saya kaget banget pas ikutan proses seleksi beasiswa ini. Kayaknya orang-orang lebih heboh daripada ikutan proses seleksi pegawai Bank Indonesia. Saya dulu pernah ikutan seleksi pegawai BI, tapi cuman ampe tahap tes kesehatan aja sayangnya. Di situ para pelamar ampe punya thread sendiri di kaskus buat ngomongin gimana proses seleksinya, apa aja yang harus disiapin, ampe minta kisi-kisi pertanyaan waktu wawancara.
Nah, di proses seleksi LPDP, di balik layar itu para pelamar juga heboh. Parahnya, ampe pada latihan wawancara dan LGD. Jadi suka pada kumpul per regional gitu buat latihan wawancara dan LGD barengan. Dan informasi ini baru saya dapet di pagi dimana hari itu saya wawancara dan LGD sekaligus. Gimana ga bikin panik!? Saya ga nyiapin apapun; bahkan ada yang lupa dibawa dan harus minta tolong orang print-in file saya; tapi orang-orang malah udah berkali-kali ketemu buat latihan.

Otomatis saya langsung googling tentang wawancara sama LGD nya LPDP. Emang separah apa sih, ampe pada latihan gitu?
Ternyata… Banyak banget tips yang ada di internet buat proses seleksi ini. Waktu nulis essai harus gimana lah, waktu LGD itu kelompoknya harus gimana dan individunya harus gimana lah, waktu wawancara sikap kita dan jawaban kita harus gimana lah. Emang dasar saya ga suka belajar di detik akhir (kalo menit akhir atau jam akhir masih gapapa lah :D). Saya ga peduliin tips yang saya temuin.

Hasilnya? Saya lulus proses seleksinya ampe akhir.

Kiatnya? Satu aja : be myself.

Prinsip saya simple sih, kalau kita dapet sesuatu dengan berpura-pura jadi orang lain, nantinya kita keteteran sendiri karena nantinya harus berpura-pura jadi orang tersebut dalam jangka waktu yang lama.

Sama aja kayak seleksi kerja. Ngapain baca tips buat tes psikologi atau wawancara? Ga ada jawaban bener atau salah, ko. Adanya jawaban cocok atau ga. Kalau ga cocok dan mau dipaksain cocok, ya bakalan keteteran ke depannya.

Sama juga kayak pacaran. Kalau pacaran serius tapi jaim-jaiman, ga bakal ketauan dong cocok apa ga nya sifat kita sama si doi. Kalo ternyata yang versi jaimnya yang cocok, kita harus jaim terus ampe tua..?

Ga deh.

(… dan jadi ngelantur)

Ya pokoknya, beasiswa apapun yang diincer, itu ga masalah. Nothing to lose juga kan, nyoba banyak beasiswa. Tinggal liat kecocokan syarat dan term&condition kalau kita diterima nanti.

Buat yang mau nekat belajar tanpa beasiswa, sekolah sambil kerja bisa selalu jadi opsi juga. Sekolah di luar negeri mahal jadi ga yakin? Kalau sekolahnya mahal, gaji part-timer nya juga gede biasanya. Jadi harusnya aman-aman aja ko 🙂

Gitu aja deh, maaf ya kalau ga bermanfaat dan ngelantur ke mana-mana.
Maklum, ditulis di saat eneg baca banyak buku dan paper sambil nulis ringkasannya. 🙁

 

 

Cheryl’s birthday – solution

(Read the problem here)

 

To get conclusion of the problem, we have three important information from Albert and Bernard’s conversation:

  1. Albert knows that Bernard does not know
  2. Bernard knows the answer after point 1 is known
  3. Albert knows the answer after point 2 is known

 

So here we have initial options:

May 15           May 16           May 19

Jun 17            Jun 18

Jul 14              Jul 16

Aug 14            Aug 15            Aug 17

 

Albert at first sure that Bernard does not know the answer. So Albert sure that Bernard was told neither 19 nor 18. It means Albert was not told May or June.

May 15           May 16           May 19

Jun 17            Jun 18           

Jul 14              Jul 16

Aug 14             Aug 15           Aug 17

 

Having told that, Bernard knows the answer. It means he got a unique day of the remaining. Therefore we can eliminate all both 14.

May 15           May 16           May 19

Jun 17            Jun 18           

Jul 14              Jul 16

Aug 14            Aug 15            Aug 17

 

Lastly, it makes Albert knows the answer also. So the only possible reason is Albert was told that Cheryl’s birthday is July.

May 15           May 16           May 19

Jun 17            Jun 18           

Jul 14              Jul 16

Aug 14            Aug 15            Aug 17

 

 

Therefore, Cheryl’s birthday is July 16.

 

Blue or red? – solution

(Read the problem here)

 

There are 13 blue balls.

If we take only one blue ball, the ball will be back to the box.

If we take two blu balls, both will be out from the box.

It means blue balls can not get out alone. Means there always at least one blue ball in the box.

So the remaining ball must be blue.